Tentang Karin “awkarin” Novilda, Line, dan Liverpool.

Tulisan di bawah ini adalah hasil pemikiran saya yang mengganggu di tanggal 19 Juli 2016, yang membuat saya memutuskan untuk tidak tidur dan terus menulis sampai jam 5 pagi. Sebuah ceplas-ceplos tanpa propaganda apapun yang akhirnya saya post di account Line saya, atas nama ndari, untuk dibaca teman-teman. Kenapa di Line? Karena tulisan ini tanpa melalui proses endapan dan editing apapun seperti biasanya ritual saya. Jadi jelas, banyak kesalahan EYD, kalimat-kalimatnya tidak koheren, banyak jokes garing, sarkasme sampah, dan perumpamaan yang bikin fans-fans Liverpool mengira saya mem-bully klub favorit mereka.

Sama sekali tidak saya duga, ternyata tulisan ini viral ke mana-mana. Dalam tiga hari, terakhir kali saya cek, tulisan ini di-share kurang lebih 16 ribu orang. Tulisan saya sudah di-copas oleh beberapa official account tanpa ijin, ada yang mencantumkan credit dan ada yang tidak. Tapi saya anggap itu konsekuensi dari menulis status di Line, bukannya lewat platform yang lebih besar.

Hingga tiba-tiba, tulisan saya ini hilang tanpa jejak dari home saya, karena ada yang me-report tulisan ini, entah siapa dan dengan alasan apa. Perlu saya jelaskan di sini, bahwa saya sama sekali tidak merasa ditekan ataupun tertekan dengan banyaknya komentar negatif yang muncul dari pihak Karin Novilda ataupun fans-fansnya, yang memutuskan saya untuk menghapus tulisan tersebut. Tulisan saya DIHAPUS secara sepihak.

Atas dorongan beberapa teman, saya memutuskan untuk membagikan kembali tulisan ini ke dalam situs pribadi saya. Yang perlu saya tekankan di sini adalah saya tidak mencari popularitas atau sensasi karena mumpung lagi banyak yang ngomongin topik ini. Yang menjadi alasan keputusan ini adalah komentar-komentar yang muncul di tulisan saya beberapa hari ini, yang bercerita tentang adik, teman, murid, kolega, ataupun anak muda pada umumnya yang, menurut penuturan mereka, mulai menunjukkan tindak-tanduk yang serupa dengan apa yang Karin Novilda pertunjukkan lewat media sosialnya. Ada 16 ribu orang yang sedikit banyak juga memikirkan hal yang sama seperti saya. Dan saya, sebagai anak muda, merasa memiliki tanggung-jawab moral untuk melakukan apa yang saya bisa, yaitu menulis, untuk setidaknya mencoba memberikan perspektif yang baru. Dan apa yang saya tuliskan di bawah persis sama dengan yang saya tuliskan di Line, tanpa diedit sehurufpun. Kata Pram, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Tulisan saya bisa saja dihapus, tapi suara saya tidak bisa mati.

Perlu diingat bahwa saya bukan orang yang hanya tau Karin dari vlog terbarunya. Saya berusaha memahami isi kepala Karin lewat semua media platform-nya, dan memahami penggemarnya yang berusia 11-18 tahun. Saya tidak mencoba menggurui, menyebarkan kebencian, apalagi mem-bully awkarin. Saya tidak mau mempromosikan cyber bullying di sini. Kembali lagi, saya hanya mencoba memberikan sudut pandang saya. Yang pasti, jangan sepenuhnya optimis tulisan ini akan mencerahkan, karena ini esai, bukan Bayclin.

Selamat membaca.

__________________________________________________________________

Jadi begini.

Saya orang yang suka stalking. Terutama selebgram, buzzer, influencer, youtuber, snapchatter, apalah. Orang-orang yang punya 15 minutes of fame lewat instagram, askfm, youtube. Saya stalking dengan alasan yang paradoks: penasaran, apa sih yang bikin saya begitu penasaran banget sama hidup mereka. Apa bedanya sih, hidup saya sama mereka? Wong sama-sama laper kalo jam 12 siang belum kena nasi.

Selebgram yang saya seru banget stalking-in adalah awkarin. Kenapa? Karena branding yang dia jual ke abege-abege Indonesia. “We don’t need goals, we are goals,” begitu katanya. Lantas sehebat apakah hidupnya sehingga ia memproklamirkan bahwa pertemanan, gaya hidup, gaya pacarannya adalah panutan?

Saya buka instagramnya, okelah, tipe-tipe abege fashionable yang suka pose-pose lordosis: susu monyong membusung, pantat kejengkang ke belakang. Okelah, cantik. Rokokan dan doyan dugem, baiklah. Loh loh, bekas cupang diupload? Yawes karepmu. Oh, ternyata ni cewek punya prinsip, “Nakal boleh, bego jangan.” Nilainya straight A’s semua. Tapi kalau baca-baca tulisannya di ask.fm/awkarin, isinya backlash ke hatersnya semua. Pinter e nangdi? Hmm.

Ketika khatam baca askfmnya baru saya sadar, bahwa awkarin ini bukan sekadar selebgram. Doi entrepreneur juga, pemirsa! Penghasilannya 32 jt perbulan, katanya sih. Sudah punya rumah sendiri, mandiri finansial dari orang tua sejak umur 16, katanya sih. KEREN. Ternyata akun youtube dan askfm-nya dimonetized. Setiap orang yg subscribe atau nonton videonya akan dihitung sama youtube dan doi dibayar. Doi juga buka open endorse mulai dari sempak sampe makaroni pedes. Palugada.

Lalu tetiba beberapa hari belakangan ini semua orang, termasuk yang ga ngikutin sepak terjang youtubers, rame ngomongin awkarin. awkarin tetiba jadi social pariah gara-gara putus sama gaga, dan semua orang nungguin vlognya. Kami butuh klarifikasi, tolong jelaskan sebenarnya ada apa!!!! #TeamGaga #TeamKarin. Akhirnya vlognya muncul, dan saya nonton.

Saya menutup window youtube saya dengan amarah yang menjadi-jadi.

Perlu diingat, saya bukan fans, bukan hater awkarin. Saya cuma pembaca dan penonton pasif. Saya cuma orang yang suka diskusi, dan saya punya dua pendapat di sini:
1. Kita hidup di era oversharing, gara-gara social media. Sebagai manusia modern, ada satu rasa gatal dari diri kita untuk membagikan sedikit dari siapa kita pada orang lain sebagai wujud pembuktian diri identitas – lewat gambar, tulisan, suara, yang dengan mudahnya tersebar ke siapapun. Selebgram, influencer, dan youtuber adalah orang-orang cerdas yang kebetulan menggunakan rasa gatal ini untuk mengenyangkan perut mereka. Apa yang terjadi dalam hidup mereka, dijadikan konten di socmed.  Merekam semua keseharian dan menyelipkan apapun produk yang mereka pakai sebagai usaha endorse. Menjadi reality show ala Keeping Up With Kardashians – tapi ini beneran guys, unscripted!  Eh vlog itu diskrip gak yah. Ah allahualam, kan kita cuma nonton ga usah mikir. Kalo mau mikir nonton Cosmos-nya Carl Sagan aja hehehehe.

Karena vlog unscripted, maka pembuat konten2 kreatif ini perlu kerja keras, gimana caranya their mundane, boring life bisa bikin banyak viewers. Banyak viewers = banyak duit masuk. Easy math.

Sedangkan hidup manusia pada dasarnya mah sama aja. Bangun, mandi, makan, kerja/sekolah, makan lagi, pup, kongkow, menjalankan hobi, pulang, bubuk. Yah gitulah kira-kira kalau saya bikin vlog, isinya mah gitu2 aja. Tapi kenapa para vlogger dan selebgram hidupnya begitu menarik? Ini rahasianya, saudara-saudara: karena mereka MENCIPTAKAN konten. Bukan mereka berakting, tapi mereka MEMILIH sesuatu dari segala hal yang terjadi dalam hidup mereka untuk direkam atau difoto lalu diupload. Ada alasannya kenapa mereka posting Get Ready With Me, bukan Poop With Me. Kehendak mereka dalam memilih aktifitas dan menciptakan konten sama bebasnya dengan keputusan Anda dalam memilih siapa yang harus difollow dan mau nonton video yang mana. Ada sesuatu yang di-highlight dalam hidup mereka. Ada yang suka make-up, atau suka makanan vegan, atau sering travelling. Mereka tahu jelas pasar mereka. awkarin pun begitu – dia anak remaja yang gaul. Kontennya jelas isinya sebagaimana anak gaul seharusnya: dugem, rokokan, punya pacar ganteng dan kaya dan bisa diajak ewe-ewean. Jelas ada yang suka, ada yang enggak. Hidup gue asik njing, lu lu pade yang cuma gegoleran di rumah pake daster bau bawang cuma bisa nonton.

Di vlog terbarunya, dia nangis-nangis, gak kuat dengan para haters yang mencerca gaya hidupnya, di sela air mata mengatakan, “Kalian jahat, kalian gak tau rasanya jadi aku, capek tau gak sih harus kayak gini, harus dijudge semuanya, harus baca kata-kata kalian yang jelek tentang aku.”

Well, here’s where you’re wrong, awkarin: no one told you to.

Saya tidak membicarakan gaya hidupnya: saya ga peduli gaya hidup siapapun. Tapi ketika gaya hidupnya dijadikan mata pencaharian, saya menganggap kehidupannya sebatas konten kreatif. Ketika seseorang menampilkan hidupnya ke khalayak ramai dan mendapatkan uang untuk itu, sama aja kayak buka open house 24
/7/365. Siapapun yang masuk pasti akan mengomentari. Itu occupational hazard. Setiap pekerjaan punya risiko, dan risiko menjadi vlogger atau selebgram adalah judgement dan ketiadaan privasi. Dan menurut saya, dia gak berhak marah-marah ketika ada siapapun yang mencerca. Ibaratnya saya bayar 380rb++ untuk makan di restoran mewah, tapi chefnya baru dan doi lagi pengen masak di kompor deket mesin pengolahan kacang. Ternyata di steak saya ada kulit kacang nyempil. Saya berhak protes ke chef, kan? Mana mungkin saya malah digampar sama si chef gegara protes. Siapa suruh si chef masak di kompor situ, padahal kotor dan banyak kompor lain.

Para youtuber atau selebgram yang berani posting segala macem adalah orang yang (harusnya) berprinsip, tau batasnya sharing dan show off, tau kapan harus stop, dan tau gimana caranya tutup mata dan tutup mulut. Ketika kamu jadi sosok yang dilihat semua orang, everyone judges, because you let them to. Dan dalam kasus awkarin ini, aneh rasanya ketika dia playing victim, sedangkan dia sendiri yang mempertontonkan kehidupannya ke semua orang. Dan ketika dia mulai dapat keuntungan dari situ, dia ga lebih dari sekadar pekerja. Don’t play victim, honey, because you pull the trigger – we all just stand by here and watch.

2. Sekali lagi, saya ga mengkritisi gaya hidup siapapun. Mau kamu nikah sama kipas angin, minum spiritus, ngerokok obor, cupang-cupangan di lutut, derita lo pade. Soal awkarin yang suicidal karena hampir bunuh diri dengan menenggak aseton (WHATTT?), yang abusif, posesif, obsesif, d’massiv, saya belum dapet mata kuliah Asesmen dan Aplikasi Intervensi untuk dapat menginterpretasikan kasusnya.

Tapi saya di sini bicara sebagai perempuan yang jika hidup di era yang berbeda, mungkin tidak bisa tahu bagaimana cara membaca dan menulis.

Kepala saya mendidih ketika saya dengar bahwa dia, quote unquote, “rela ga belajar UN buat nemenin gaga”, sehingga pakai kunci jawaban supaya bisa lulus. Lalu dia sambil nangis bilang bahwa dia ngelepas Kedokteran UI, yang jadi mimpinya sejak lama, karena ga ada waktu buat belajar karena nemenin pacarnya, yang udah jadi mantan, yang katanya selingkuh (“after everything that I did for you? after every single promises that you made? apa yang kamu lakukan ke saya…. JAHAT, rangga, eh gaga”) mungkin bakal balikan lagi, atau enggak, biarlah bulan Purnama yang memutuskan.

Sampai sekarang kita masih sering mendengar selentingan, “Hala ngapain kuliah lama-lama, toh juga nanti ngurusin anak sama suami.” Dan sampai sekarang, jutaan perempuan, termasuk saya, masih menyuarakan haknya untuk menjalani hidup tidak terlekat HANYA pada masak-manak-macak, tapi juga bisa dibarengi dengan panggilan hidupnya yang lain. Perempuan juga boleh sekolah, boleh belajar, boleh jadi dokter, sambil nyusuin anak. Semuanya masalah pilihan.

Dan membuang masa depan dan pilihan hidup demi anak ABG yang belum jelas juntrungannya, belum tentu jodoh, belum tentu akan menikahi, hanya berpatok pada pakem “RELATIONSHIP GOALS”, demi sebuah rasa sayang yang udah dicampur aduk dengan keharusan untuk membangun sebuah self-branding…. sedangkan banyak wanita di luar sana yang memperjuangkan kesempatannya untuk bisa bersekolah setidaknya hingga SMA?

That’s… degrading.

Semua orang punya pilihan hidup. Memilih menjadi orang yang menunda sekolah untuk alasan apapun, itu adalah hak. Namun jadi lain ceritanya ketika awkarin, yang telah memproklamirkan pacarannya sebagai relationship goals dan meninggalkan kesempatannya diterima di UI hanya untuk menemani pacarnya – sementara ribuan ABG di luar sana trenyuh dan merasa, “Awwww karin so sweet banget..” It just baffles me how dangerous it is.

Saya gak pantas lah ya, kalau harus ceramahin hidup awkarin terlalu panjang, atau jelasin sejarah perempuan Indonesia hingga bisa sekolah kayak sekarang. Saya cuma bisa ngomong ke perempuan di manapun, terutama yang lebih muda dari saya dan rela waktunya terbuang untuk baca ini, bahwa berhentilah menjiplak hidup orang lain dan iri sama kesehariannya. Boleh penasaran, tapi jangan jadikan hidup siapapun, terutama awkarin, untuk jadi panutan. Contohlah prestasinya, bukan hidupnya. Kalau kamu benar-benar butuh panutan dari remaja seusiamu, lihatlah Malala Yousafzai, 19, yang di umur 17 tahun menang Nobel Perdamaian atas usahanya membuka sekolah untuk perempuan Taliban. Atau Anzimatta, seorang penulis Indonesia yang tulisan dan gambarnya sangat berani berjuang untuk persamaan hak asasi manusia, padahal usianya baru 19 tahun. Seusia awkarin semua, kan?

Buang jauh-jauh kata-kata goals dari pikiranmu ketika melihat gaya hidup yang bukan kehidupanmu. Kamu sendirilah yang harus menetapkan goals untuk dirimu sendiri, bukan orang lain, seolah-olah mereka kiper yang menjaga gawang, dan kamu harus mencetak gol supaya menang. Ini bukan musim bola dan kamu gak perlu menang saat ini, kamu bukan Liverpool.

*drops mic*Screenshot_2016-07-19-13-56-01_1(pic credit: instagram.com/cavendishop.id)

ditambahkan tanggal 23 Juli 2016

Beberapa hari yang lalu, ada salah seorang pembaca tulisan saya di Line yang kemudian bercerita soal pengalamannya. Mala, adalah seorang guru privat Bahasa Inggris.

Tulisan di bawah ini saya salin kata per kata, seijin Mala. Berikut cerita Mala.

“I once did not care about those personal yet popular accounts showing off things like drinking and kissing in public as I know personally it is not even cool for me so why bother commenting on those people’s Instagram and protesting about what they do while on the other hand, some of our teenagers compliment them and label them as “relationship goals”. (but I wonder what’s so cool about that… Everyone can do that thing if they want to like seriously, we all also have lips?!?!?!)

Yes, I did not really care. I did not. Until one of my dearest people, one of my students, was found out to be one of awkarin’s followers and really really reallyyyy into her.  I found this out when I helped my student doing her homework from school asking her to tell about her idol to the class, and she chose Karin Novilda. I first didn’t recognize her from her full name, but then my student continued “that famous awkarin on instagram!!!” 

I literally cried on my way home after having that day session with her. We never missed out any of our following sessions not talking about awkarin and one day….
👧: *seeing an update on snapchat* omg temennya awkarin ada yg mabok sampe dibopong omg omg that’s so cool!!!
👩: apaan sih. udah jangan liatin snapchatnya mulu. block block
👧: kenapa sih kak? kakak benci bgt sm dia? kan dia pinter
👩: yaudah ayo belajar lagi, biar pinter kayak awkarin
👧: awkarin pinter tapi gak pernah belajar tau kak
👩: mana ada orang pinter tapi gak pernah belajar
👧: di snapchat dia gak pernah belajar
👩: dia kalo lagi belajar, gak main snapchat
👧: enggak. dia literally snapchat everything dari bangun tidur sampe pulang malem. gak pernah belajar
👩: *cries*

My student was found out to be her huge fan, thinking what she’s doing (going out until late at night, getting drunk yet managing to have good grades at school) is cool (my student goes to a well-established junior high school in Jakarta so she actually is really care about grades and to find someone like awkarin who brands herself as someone who is nakal but tetap pintar is like angin segar, for my student now has a justification to do like awkarin does, which of course is not a good justification). Do you know what happened to people who are smart but don’t have good attitude? They use their intelligence to trick, to cheat, which is even more harmful. People doing corruption can be one example.

Since then, I do care about the existence of those acccounts and try to keep up with them. I see their updates in various platforms and that makes me even cry more, imagining that in the other place my student is spending her time seeing this and thinking what she does is a life goal… I cannot.

I know some of us also realize how bad those accounts are and how critical some of our teenagers today are but don’t know who we want to blame. some of us may not really care because of “it’s their right to do that thing. They are living their life and I’m also living mine, peacefully” reason like I once had. But trust me you’ll never want to feel this kecolongan feeling. So in the meantime, I strongly recommend you to keep your beloved little ones from those accounts, check what they are following as those accounts are actually now more harmful than television (moreover, who watch television today???). Televison can restrict their viewers and its contents, but those people on Snapchat can be added as friends without any limitation of viewers regarding to the contents which are very concerning. and let’s use the privileges we have of living in this digital era by sharing things wisely and thinking deliberately about the effects on others who may view them.”

 Ya, Karin adalah anak muda berusia 19 tahun yang memiliki segudang polemik yang mungkin menjadi alasan perilakunya. Tapi, ia juga anak muda 19 tahun yang beranjak dewasa, dan seharusnya memahami konsekuensi dari segala tindakannya. Karin adalah orang yang sangat hebat dan memiliki kekuatan yang sangat besar untuk mempengaruhi orang lain, dan rasanya ia tidak sadar betapa kuatnya dia. Tapi, menurut saya, tidak selamanya kita harus menjustifikasi dan memaklumi perilaku nakal anak-anak muda dengan alasan “dia masih kecil, ini hidup dia”. Itu artinya kita meremehkan kemampuannya untuk melakukan hal yang benar untuk menyelamatkan hidupnya sendiri.

Advertisements
Tentang Karin “awkarin” Novilda, Line, dan Liverpool.

202 thoughts on “Tentang Karin “awkarin” Novilda, Line, dan Liverpool.

  1. Addicted To Jaerim Apple Butt says:

    Bhaks cool apanya? Cool dari hongkong? 😪
    Cool itu kalo kita berprestasi, bisa banggain ortu dan bisa jadi penemu kayak anak2 keren diluar sana. Gw mah daripada nonton awkarin mending nonton kucing pacaran dah -_- 😂

    Like

  2. phizulpi says:

    Tenang…yang dia dapatkan sekarang itu hanya ujian dari Tuhan berupa nikmat yang disegerakan a.k.a istidraj hehe. Miris banget saat pertama tau ttg berita anak ini. Oke sih dia pinter, tapi kalo akhlaknya gitu apa ya masih wangun dikatain pinter? just my opinion. Semoga anak cucu keturunan kita jangan sampai kayak begini ya..pinter tapi jangan keblinger. Jadi anak yang bisa nuntun orang tua bahagia di dunia dan akhirat sana. Aamiin

    Btw, suka sama tulisan ini. Izin share y kak 🙂

    Like

  3. fitri amelia says:

    Neng karin,kasian kamu,kamu adalah korban dari rusaknya pergaulan dan pendidikan ala barat yg sekuler,buat adik2 remaja diluar sana,yang namanya orang pinter itu adalah yang pinter dalam berpikir dan berperilaku,yang mampu selesaikan masalahnya sesuai aturan dari penciptanya. Trus INGET ya belajar itu bukan cuma untuk dapet rangking disekolah,,tapi BELAJAR itu untuk memperbanyak ilmu,karena orang yang berilmu miliki kepribadian(cara berpikir&bersikap) yang beradap…soo dapet rangking d nilai gede di sekolah ngk cukup dikatakan kamu pinter,kalo punya masalah malah uring2an,stress jd baper…upload sana-sini,tebar aib sama aja ngejelekin diri sendiri,eksis kebablasan sampe jeleknya kamu jadi tontonan,ketawaan bahkan cemoohan orang,please stop promosi gaya hidup beginian be more smart yaa,,

    Like

  4. Ayu... says:

    What a bad platform for our country. 2 hari sy membantu seorang ibu melahirkan. Umurnya 16 tahun. And guess what, her age is 16 years old and suprised me, that is her second pregnancy. She was pregnant at 13 years old. Bayangkan apa yg bisa dia berikan kepada 2 anaknya saat dia masih remaja yg seharusnya masih sekolah dan having fun. It’s very sad. Ibu2 ini yg nantinya melahirkan anak2 yg labil.

    Like

  5. Strecoma says:

    Idk who she is, before my college friend talking about her. Pada akhirnya gue ‘kepo’ mencari tau siapa dia, apa yg dia lakukan, dsb. Well, terlalu miris ketika ‘mabok, tato, rokok, dsb.’ dikategorikan sebagai ‘goals’ oleh follower maupun subscriber dia. Apa karna dia cewe jadi saat dia melakukan hal tersebut followernya berfikir ‘that so cool’ tunggu, bukan gue mendiskriminasikan kaum wanita, bukan.
    Tapi apa yg dia lalui juga pernah gue alamin, bahkan seorang teman yg memang jauh lebih tampan dari gue yg melakukan hal yg sama malah mendapatkan cemoohan bukan pujian, no one said him so cool hanya karna mabok, tatoan, ataupun ngerokok. Hal yg membuat gue heran adalah kenapa ‘something like that’ bisa jadi panutan ‘goals’ untuk para follower dia, gue gak ngerti, menurut gue yg mabok mabokan, yg tatoan, yg ngeroko banyak bukan hanya karin, tapi entah kenapa saat dia yg melakukan itu bisa menjadi ‘goals’ kenapa?!
    Buat gue pribadi saat ‘kepo’ dengan kehidupan dia yg gue lakukan hanya ketawa, mungkin ada yg pernah baca quote ‘kalo baru bandel gausah pamer, nanti diketawain sama yg udah tobat.’ dan karna itu saat gue ‘kepo’in doi bareng sahabat gue kita cuman ketawa bahkan salah satu temen gue bilang ‘mereka yg norak telat bandel, atau kita yg keduluan bandelnya sih?’ dan pecahlah tawa kita. Buat gue, ‘goals’ adalah sesuatu yg berguna buat diri sendiri, orang terdekat, orang sekitar, dan orang lain yg bahkan lo enggak kenal namanya. Kalo mabok, tato, ngeroko dijadiin goals mah yelah sedih bgt hidupnya sumpah. Mungkin beda jaman beda cara melihat sesuatu pergaulan dan beda menentukan sesuatu jadi panutan.

    Liked by 2 people

  6. Wah menarik! Bagaimana media sekarang berkembang bahkan diluar kuasa KPI. Bukan lagi caleg yg bisa membeli saluran penyiaran di TV yg terkenal, tapi sepertinya caleg yg menjadi selebgram, vlogger, youtubers, atau apapun itulah yg bisa mengambil alih kursi pemerintahan.
    HAHAHAHAHAHAHAHA amit-amit cabang bayik. Maafkan saya spam 😄😄😄

    Like

  7. Momski says:

    Kalo aku liatnya awkarin itu efek dari “CULTURE SHOCK” krn pengalamanku liat sendiri yg dulunya dr kampung atau desa dan tetiba hidup di jakarta yg katanya metropolitan gayanya jd metropolis deh, dan masalah dia pake kunci jawaban UN bisa jd sebelumnya jg pake tuh kunci jawaban UN jg, krn udah dpt pengalaman dr mana buat dapetin kunci jawaban UN tsb, aku yg awam gak tau tuh dmn cara dapetnya kepengen juga sih pake kunci jawaban UN wkwkwkkw

    Like

  8. Yon MK says:

    saya suka tulisan ini. Ringan namun berbobot. Fenomena seperti ini membuat orang tua dan calon orang tua semakin risau saja. 😂

    Like

  9. Ann says:

    Nice post! Everyone is talking abt her seakan-akan dia itu artis. The worst part itu saya ada dilingkungan Pondok Pesantren(modern ofc jadi we are allowed to bring laptop). Ga dikelas, diasrama yang diomongin dia mulu. Sampe ada tmn saya yang awalnya rajin ikut² an liat vlog awkarin. Ngerasa inappropriate gitu anak pesantren liat vlog nya awkarin yang lifestyle nya bukan anak pesantren banget lol😂 BIsa disimpulkan, disini kalau belum liat vlog awkarin berarti ga gaul hahaha #curhattipis2

    Like

  10. Sri Haryati says:

    Sebagai seorang ibu, saya khawatir dengan followers nya, dimana usia2 tersebut anak sedang mencari jati diri, khawatir takut banyak anak yang mengikuti perilakunya…sungguh merusak….

    Like

  11. Terima kasih untuk tulisannya. Saya senang ada yang juga mewakili apa yang saya pikirkan sebagai guru SMP, dengan bahasa yang juga apa adanya 🙂 Thanks for sharing. I’ll let my students read this article together and discuss about it.

    Like

  12. raniyulianty123 says:

    Nice article, suka banget dengan gaya tulisannya yg ringan tapi Salem, masala awkarin, hanya baca dr komen2 teman, nggak kepoin medsosnya, tp kayaknya pergi juga kepoin kyk Gini,biar bisa kupas tuntas

    Like

  13. Diyana says:

    Gokil, saya suka kata2 terkahir ini : “tidak selamanya kita harus menjustifikasi dan memaklumi perilaku nakal anak-anak muda dengan alasan “dia masih kecil, ini hidup dia”. Itu artinya kita meremehkan kemampuannya untuk melakukan hal yang benar untuk menyelamatkan hidupnya sendiri.”

    Like

  14. RENE says:

    honestly saya tidak tahu menahu soal awkarin, sampai salah satu diskusi soal media effect membawa nama awkarin menjadi contohnya. saya pribadi baru melihat awkarin, dan mulai memperhatikan apa yang dia posting di media sosial miliknya. no offense, saya bukan fans dan juga bukan haters. but, entah kenapa saya merasa ada yang salah dari awkarin, bukan gaya hidupnya, bukan tubuhnya, bukan nangisnya, juga bukan pacarnya. tapi cara pandang yang dia bagikan ke anak anak muda Indonesia saat ini. okay, sejujurnya itu mengganggu sekali, dan diluar akal sehat saya.

    saya suka akan konsep “open mided”, maka disinilah saya menyukai tulisan milik kak sekar. ayolah, berpikir lebih wajar dan waras, wanita smart adalah wanita yang bisa menjaga dirinya juga harga diri kewanitaannya. well, itu pendapat saya. buat saya tidak penting nilai kamu bagus atau nilai kamu tinggi, as long as anda tidak punya attitude, anda tak bisa menyebut diri anda smart. simple logic thinking.

    *semoga semua orang yang membaca artikel kak sekar boleh sama sama open mided 🙂
    thank you kak sekar for this great article

    Like

  15. Clea says:

    I love to read this. Sebagai anak remaja yang masih duduk di bangku SMA, saya juga punya pandangan seperti writer. Saya ga ngemasalahin fashion dia, atau ngomong joroknya yang literally anak remaja ngelakuin at least 1 kali dalam seumur hidupnya kalo semisalnya misuh dll. Tapi permasalahannya bagaimana dia membuka kehidupannya. Membaginya ke media sosial. Oversharing. And she doesn’t care about her action at all. But, then she playing victim! DANG IT AWKARIN! Those action-reaction from Newton, she better remember that thing. But, I’m glad to know she promised to be better after that KPAI lmao. (Still learning english, so i need to practice right? Cmiiw wkwkwk)

    Tbh, Sometimes, i see myself in her. But i too realize, i don’t want to be like her. Such a bad example. Dan, yakin banget saya bakal dicoret dari Kartu Keluarga kalo saya ngalakuin hal itu lmao

    Saya berharap sangat, apa yang dia janjikan kepada masyarakat, buat dia jadi lebih baik, dapat terlaksana. Yakin ada proses buat dia.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s