Hari Itu, Saya Berhenti Mencukur Bulu Kaki (dan Liberasi akan Hal Lain)

feminism illustration by sukutangan

Baru-baru ini, saya bertengkar dengan beberapa laki-laki yang tidak saya kenal. Ketika itu, saya dibonceng seorang teman perempuan saya naik motor, dalam perjalanan pulang seusai makan siang. Kami bersisian dengan sebuah mobil pick-up yang sedang membawa galon – dan si supir laki-laki bersama dua bapak-bapak di kursi penumpang menggoda kami dengan bersiul. Dan tidak kami acuhkan. Teman saya berusaha menaikkan kecepatan agar mobil tersebut tertinggal, lalu kami melanjutkan percakapan.

Ternyata, tidak sampai di situ. Mereka ternyata mengikuti kami dan berusaha menarik perhatian dengan memanggil-manggil kami. Kami tetap mengobrol, lalu mereka menimpali pembicaraan kami dengan kata-kata, “Iya, oh gitu, iya ta Mbak, duh Mbaknya..” – yang tetap tidak kami hiraukan. Tindakan ini berlangsung hinga beberapa ratus meter, hingga akhirnya terlontar kalimat, “Mbak-mbak cantik, sini yuk Mbak, ikut kita aja,” sambil tertawa-tawa, lalu melaju meninggalkan kami.

Kami mengamuk. Teman saya mengejar mobil tersebut dan berusaha sedekat mungkin dengan mobil. Kami mengumpat. “Untuk apa ngomong kayak gitu, Pak? Bapak gak punya anak perempuan? Saya doakan anak Bapak juga digodain orang. Saya doakan, kontol Bapak yang kecil gak bisa ngaceng lagi.” Dan pria-pria tersebut, hanya bisa tertawa. “Ya ampun Mbak, cuma becanda.”

Sepulang dari kejadian tersebut, saya termenung di kamar, berusaha memproses apa yang barusan terjadi. Dari sekian banyak wanita pengendara motor yang ada di jalan kala itu, mengapa kami? Apakah karena gestur kami? Kami hanya mengobrol di jalan. Apa karena pakaian kami? Saya  hanya memakai kemeja longgar dan celana panjang, teman saya memakai kaus dan  jins. Saya merasa bersalah. Saya baru menyadari bahwa kata-kata saya terlalu kasar. Siapapun tidak pantas mendapatkan “doa” buruk untuk anaknya – seorang cabul atau kriminal sekalipun. Tapi, saya juga berhak merasa diserang, dan lontaran kata-kata tersebut adalah luapan kekesalan saya. Dan saya tidak bisa memungkiri bahwa saya sangat, amat, lega setelah meneriakkannya. Lalu, apakah saya salah karena membalas kata-kata mereka dengan kata-kata? Apakah seharusnya saya diam saja?

Lalu saya menyadari satu hal – betapa seringnya saya mengalami godaan serupa dari pria tak dikenal, dan betapa seringnya saya merasa bahwa ini adalah kesalahan saya.

Saya, dan juga jutaan perempuan lainnya, pasti pada satu titik pernah mengalami hal serupa. Baik yang bersifat verbal lewat catcalling atau unsolicited flirtation, bahkan yang berakhir dengan pelecehan non-verbal seperti colekan di bokong atau payudara. Bagi saya pribadi, ketakutan akan adanya gangguan seperti ini membuat saya merasa terancam dan gelisah tiap akan pergi sendirian, di tempat-tempat tertentu, atau di malam hari. Bahkan di situasi yang terkesan aman sekalipun. Pernah suatu kali, saya bersembahyang di pura. Di sana, seorang laki-laki sengaja menabrakkan tubuhnya ke arah saya agar bisa menyentuh payudara saya, lalu pergi tanpa meminta maaf. Bahkan pacar saya – yang menemani saya sembahyang, selalu bersama di samping saya, bahkan sesekali merangkul – menghitung ada berapa pria yang memandangi payudara saya. Totalnya ada 25 laki-laki. Sebuah jumlah yang cukup memalukan, mengingat pura adalah tempat beribadah, kebaya yang saya pakai tidak tembus pandang apalagi menunjukkan belahan dada, konteks kami berada di sana adalah untuk berdoa, jelas-jelas saya membawa pasangan. Dan sebagian besar dari pria-pria itu datang bersama pasangan dan bahkan anaknya.

Ketika saya menceritakan kejadian ini – atau kejadian-kejadian lain di mana saya mengalami pelecehan – ke beberapa teman saya, reaksi yang umumnya langsung saya terima adalah:

“Kamu waktu itu pakai baju apa?”

“Kamu sih, sukanya pake baju kebuka-buka.”

Bahkan, seorang mantan pacar saya pernah berkata seperti ini:

“Susumu gede, pantatmu gede. Wajar semua cowok ngeliat dan nafsu. Salahmu sendiri pake bajunya gitu, apa jangan-jangan kamu suka ya digodain cowok-cowok?”

Pertanyaan ini, tentunya, membuat saya berpikir bahwa setiap pelecehan yang saya terima adalah murni kesalahan saya. Mungkin pakaian saya terlalu tipis, terlalu terbuka, terlalu ketat. Mungkin saya pergi terlalu malam. Mungkin, waktu itu saya terlalu mabuk. Mungkin, akhlak saya buruk hingga saya terlalu suka berpakaian terbuka. Mungkin, saya terlahir di dunia ini dengan jenis kelamin yang salah.  Dan reaksi tersebut, dan penyesalan yang sering saya rasakan, adalah hasil bentukan pola pikir patriarkis yang mengakar di Indonesia.

Saat ini kita hidup di negara yang membiarkan seorang pemerkosa tidak diadili—bahkan memberikan ruang untuknya menggelar pameran seni, sedangkan hidup korbannya hancur permanen, dihakimi lingkungan sekitar. Kita hidup di zaman di mana tubuh perempuan dianggap komoditas empuk untuk tambang emas industri hiburan yang terus menonjolkan imaji wanita cantik adalah yang berkulit putih, berpayudara kencang, bertubuh mulus dan berambut panjang, sehingga perempuan terus-menerus dianggap sebagai sebuah obyek yang pantas dinilai dan diberi penghakiman. Sebuah obyek yang diberi amanat luar-biasa untuk menjadi seorang istri dan seorang ibu ke depannya, yang diberi tanggung-jawab luar biasa besar oleh masyarakat untuk memingit diri sendiri untuk menjadi hadiah terindah untuk sang suami kelak. Jadi, jika seorang perempuan tidak bisa menjaga tubuh dan martabatnya dengan mengumbarnya ke semua orang dan membuat laki-laki yang bukan jodohnya menjadi birahi, ia berhak dihakimi. Begitu kenyataannya, bukan?

Sosok perempuan selalu diidentikkan dengan perannya sebagai ibu, dan istri—akan tetapi, ketika seorang perempuan memilih untuk berkarir dan menunda berrumah tangga, ia bukan wanita sempurna seutuhnya, tidak berakhlak. Garis batas bayangan seorang wanita sempurna—apakah harus cantik langsing bertubuh seksi? Atau yang tertutup dan sopan?—menjadi rancu, karena kesempurnaan ini selalu ditabrakkan dengan stereotipe bahwa nilai seorang perempuan hanya bersifat banal dan fisik, atau malah diidentikkan dengan moral dan hati yang putih bersih, mendiskreditkan otoritas perempuan atas identitasnya, bahkan tubuhnya sendiri.  Ketika saya menghabiskan waktu hampir satu jam di depan lemari pakaian untuk mencari baju yang tertutup dan sopan agar tidak diganggu tukang-tukang yang saya lewati di jalan—yang pada akhirnya membuat saya gelisah karena tidak nyaman, dan toh pada akhirnya saya juga pasti digodain—dan berusaha mati-matian agar bisa menjadi perempuan yang sesuai dengan yang orang lain harapkan, di situ saya merasa ada yang salah dari bagaimana saya membentuk pola pikir saya. Ketika saya berhenti melakukan apa yang menurut saya nyaman karena menurut orang lain itu sangat unladylike, ketika saya menerima disalahkan ketika saya dilecehkan, di situ saya tidak menghormati diri saya sendiri sebagai manusia.

Tepat di hari itu, hari di mana saya mengalami liberasi yang begitu melegakan hati setelah meneriaki para pria yang menggoda saya, saya mulai berjanji dalam hati. Untuk terus melawan siapapun yang mempermasalahkan cara berpakaian saya ketika saya dilecehkan. Untuk menghormati tubuh saya, termasuk berhenti mencukur bulu ketiak dan bulu kaki saya (kenapa laki-laki membenci bulu halus pada perempuan sedangkan mereka tidak punya obligasi untuk mencukurnya pada tubuh mereka? Apa mereka kira perempuan bukan manusia yang lahir di dunia ini tanpa bulu?) Untuk berhenti menilai diri saya dari seberapa banyak orang yang memberi komentar “Cantiknya!” di foto diri saya, tapi dari pencapaian substansil. Karena perempuan bukan obyek, tapi subyek. Bukan hanya karena saya perempuan yang feminis, tapi karena saya manusia yang punya hak untuk hidup.

(ilustrasi oleh @sukutangan)

Hari Itu, Saya Berhenti Mencukur Bulu Kaki (dan Liberasi akan Hal Lain)

what happy looks like.

I remember that one night, we were staring at the vast sky filled with lights and blinding colors. Fireworks exploded, the noise deafening, but there was something serene in the way the rain softly touched our skin. It was cold, but we were standing side by side, exhuming warmth; smokes coming out of each of our lips, locking each other until we have no way of telling which is whose. 

I remember him asking me what I was feeling. I remember finding the right words to no avail; which stunned me because I always found the right words to say, the right words to write, but not this time. There is no word beautiful enough, joyful enough, poignant enough, articulated enough. So I just pointed at the sky with my right hand, caressing his hands with the other, looking at him. If “I love you” was put into a scenery, this is what it is. Not everything has to be put into words, I learned. This is what happy looks like.

I remember him being quiet, his eyes on me, his lips arched into a smile. Maybe he was finding the right words as I was? Maybe it would be better if I gave him a pencil and a piece of paper. Maybe he could draw it down. Maybe it would be easier if I could read minds.

I remember when the words started coming. He was calm, reserved, his voice deeper than usual. “I am content, I am happy. I never felt this happy before.”

I nodded in agreement.
Then came the question.

“Would you mind spending the rest of our days like this? To build a home; to build a future together.”

I still didn’t understand the question.
“Will you marry me?”

Each word was streched out carefully, his voice trembling.
I remember the wave of emotions raging inside my body. I remember the look on his eyes, the sincerity on his words. I remember saying yes because I know no other answer. Yes I will, I do, I did, I have. Yes.

I remember me crying, him crying, us laughing through our kisses, talking till dawn, high on happiness. Time stopped, our past heartbreaks were becoming photographs that we chose not to print out. There was no point reminiscing. His bare back was as clear as a screen, I was projecting our present and our future like a 48mm film on him.

I remember the sighs, the moans, the longing to become one body.

I remember our skin against each other, his smell was becoming my smell, my head rested on his chest. His breathing was waves of an ocean, I was falling asleep listening to. 

He was everything ever present; his breath was air, I inhaled him whole; his waves purify me like water; his body the land I grow in, our hands conjoined like a tree; he was my fire, or he light the fire in me. But he was also himself, the bell that chimes reminding me to come home. 

I never knew home could be a person, and there he was. And I was home.
– for genta

what happy looks like.

Rumah Plastik – Sebuah Kolaborasi dengan @sukutangan

Sudah cukup sering, terlampau sering, aku melihatnya duduk menopang dagu ke tangan kanannya, duduk di meja dapur dan mengamati gelasnya dengan tatapan kosong. Angka di jam digital di layar oven menyala-nyala, 3:27. Ia pasti dibangunkan suara dengkuran lagi. Ia pasti sudah mencoba menggulingkan tubuh menghadap sebuah punggung lebar – yang suatu waktu pernah begitu dicintainya, jamak dipandanginya layaknya layar, di mana ia memproyeksikan kenangan dan angan tentang mereka; di mana ia sering menggoreskan telunjuknya membentuk tulisan atau gambar apapun itu, seperti anak kecil, dan disuruhnya menebak apa itu, selagi ia masih terjaga – mencari nyaman yang lampau, yang pernah ada. Ia pasti sudah mencoba menelan sunyi dan gelap yang ia benci. Ia pasti sudah lama memandangi sebuah punggung berbalut kaus putih itu, yang sekarang seperti memandangi layar yang proyektornya rusak. Yang di mataku seolah memakai pakaian yang terbuat dari batu yang menyimpan lahar panas. Yang wajahnya tidak kukenali lagi.  Ia pasti sudah berusaha kembali tidur, mendengarkan suara statis kipas AC yang biasanya selalu memudahkannya memejamkan mata.2.jpg

Setiap kali dia terjaga, ia selalu merindukan si pemilik punggung, yang kepalanya selalu menengadah tinggi seperti puncak matahari siang. Pemilik punggung adalah seorang kolektor plastik, yang seisi rumahnya terbuat dari plastik – tanaman, piano, kucing, bahkan hatinya. Pemilik punggung sangat mencintai plastik sehingga suatu hari ingin mengubah ia menjadi manusia plastik. “Cobalah,” katanya. “Ini akan membuatmu lebih menarik.” Seolah ia adalah bumi yang memerlukan daya tarik. Tapi pemilik punggung lupa bahwa plastik mudah pecah. Rusak. Leleh. Dan tidak bisa kembali sama lagi. Sejak saat itu dia berhenti melihatku.

1.jpg

Akupun dulu pernah begitu dalam mencintai pemilik punggung, sedalam mereka kini menyayatkan diam untuk melukai. Kini bahkan mereka tidak tahu apakah kata cinta pernah ada artinya.

Dia mungkin tidak merasakan bahwa ia lelah. Lelah mencintai pemilik punggung yang kini selalu memunggunginya. Karena aku lebih memilih merasakan lelah miliknya. Aku, yang telah lama ia sembunyikan di belakang cermin, di belakang sendok, di depan layar, di atas tanah. Aku, yang dengan dia sebenarnya sedekat interval denyut nadi. Aku adalah dia yang enggan dia cari, yang telah dimasukkannya ke dalam plastik dan dianggap hilang, padahal aku tidak ke mana-mana. Aku yang selalu menggapai tangannya untuk melihatku. Untuk memecahkan gelembung semesta barunya dan mengeluarkannya dari sana. Aku hanya pernah menjadi dia.

asma.jpg

Matahari sudah tinggi di puncak kepala. Dia masih terjaga, memandangi pemilik punggung yang sibuk menyiram air ke tanaman plastik dengan pandangan yang sama kosong. Aku melihat bibirnya meneriakkan, “Kalau saja aku bisa menjadi seseorang yang selalu kau inginkan.” Tapi pemilik punggung tetap bergeming. Aku memutuskan untuk tidak pergi jauh. Meskipun rindu dipandangi lekat-lekat ketika satu-satunya perhiasan ia percaya membuatnya menarik adalah senyumku di wajahnya. Menunggunya mengingat cara tersenyum lagi.

iner.jpg

Rumah Plastik adalah serangkaian gambar yang diciptakan Genta Shimaoka (@sukutangan) dalam merespon sebuah fragmen pikiran yang saya tulis 15 Januari 2015, sambil mendengarkan Fake Plastic Trees – Radiohead. Gambar-gambar dan narasi ini menjadi bagian dalam eksebisi “Love Is Blind, Huh”, sebuah eksebisi kolektif yang juga mengundang dua seniman muda lainnya, yaitu Srizkiki dan Bombdalove. “Love Is Blind, Huh” berlangsung dari tanggal 24 Februari hingga 24 April di Artotel, Sanur.

Rumah Plastik – Sebuah Kolaborasi dengan @sukutangan

Membuat Pojok Baca untuk Surabaya.

picture3

Surabaya adalah sebuah kota urban dengan kehidupan masyarakat yang beragam. Dikenal sebagai pusat industri, dan dengan dukungan pemerintahan yang baik, membuat Surabaya menjadi salah satu kota yang berkembang pesat dari segi infrastruktur.

Bagaimana dari segi pendidikan dan kesejahteraan anak?

Lewat mata kuliah Asesmen dan Aplikasi Intervensi Urban, saya berkesempatan untuk memperhatikan lingkungan masyarakat yang tinggal di RT 8, Jl. Gubeng Kertajaya. Bertempat tinggal di pinggir sebuah jalan besar dan ramai (karena lokasinya dekat dengan Universitas Airlangga dan sebuah rumah sakit terkenal), kehidupan anak-anak di sini membuat saya cukup sedih. Mereka tidak memiliki ruang gerak yang cukup untuk bermain – yang membuat mereka malah sering menghabiskan waktu bermain sepeda atau roller blade di trotoar, di pinggir jalan. Gang-gang rumah mereka terlalu sempit untuk dipakai bermain, dan banyak motor (yang kebanyakan dikendarai pengendara motor di bawah umur, tanpa helm) yang lalu lalang dengan kecepatan cukup tinggi. Akibatnya? Kebanyakan anak lebih memilih untuk main gadget dan pergi ke warnet, untuk membuka konten-konten entah apa, sebagai alternatif hiburan fisik. Anak-anak tidak punya ruang untuk belajar bersama dengan teman-teman sebaya, apalagi mengenal bacaan sebagai salah satu sarana hiburan. Literasi mulai ditinggalkan anak-anak – yang terlihat dari ucapan salah satu anak yang kami dengar ketika melakukan observasi. “Lapo mas moco buku susah-susah. Mending ndengerno wong ae kan belajar” (“Ngapain mas, baca buku susah-susah. Mending dengerin orang aja, kan belajar.”)

Surabaya dinobatkan sebagai Kota Literasi sejak tahun 2014. Tapi, apa dampak nyatanya untuk Surabaya sendiri?

Pemerintah Kota, bekerja sama dengan Perpustakaan Kota, memiliki sebuah rancangan program berupa Program Baca Gratis, yaitu perpustakaan yang seharusnya ada di tiap RW. Namun, tidak dijalankan di tempat ini.

Saya dan beberapa teman berencana untuk membuat serangkaian acara kecil-kecilan, berbentuk Festival Literasi Anak, guna memperkenalkan kembali kepada anak-anak, nikmatnya membaca buku. Literasi tidak bisa diperkenalkan begitu saja dengan langsung membuat perpustakaan. Harus ada motivasi intrinsik untuk membaca dan merasa tertarik dengan literasi. Akan ada sosialisasi dan workshop dongeng untuk ibu-ibu, acara dongeng untuk anak-anak, nonton film bareng, dan puncaknya, peresmian Pojok Baca di Balai RW, Minggu, 13 November 2016.

Kami tidak bisa bekerja sendiri. Kami butuh bantuan teman-teman sekalian yang juga merasa bahwa minat baca rendah adalah sebuah masalah yang harus diselesaikan bersama. Bahwa harus ada lebih banyak buku dan ruang untuk anak-anak membaca, belajar, dan bermain sesuai umurnya.

Untuk Pojok Baca ini, kami akan sangat senang hati dan bersyukur jika dapat menerima bantuan teman-teman yang ingin menyumbangkan buku cerita, buku pelajaran, alat tulis, dan alat lukis atau alat kreasi lainnya, untuk semua umur (balita hingga remaja). Saya dan tim akan senang hati mengambil bantuan teman-teman (untuk yang berdomisili di Surabaya) dan menerima kiriman dalam bentuk apapun. Informasi lebih lanjut bisa menghubungi saya via Facebook, atau line: ndarow, atau WA/SMS/telepon di 085649816909.

Mohon bantu sebarkan informasi ini.

Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Membuat Pojok Baca untuk Surabaya.

Mengapa Saya Memilih No.1: Sebuah Kritik dan Sebuah Solusi.

235649Sejak saya SMA, saya memiliki gambaran yang begitu besar mengenai mahasiswa. Dari buku-buku yang saya baca, tokoh-tokoh yang saya kagumi – Gie, Tan Malaka – semuanya begitu menggebu-gebu menceritakan peran mahasiswa. Saya membayangkan diri saya menjadi seorang aktivis, menyebarkan literasi ke rakyat kecil, mendiskusikan ideologi-ideologi berbahaya, menyuarakan hak asasi manusia sampai pita suara mau putus. Saya mau jadi pemantik – kecil tapi berbahaya, mampu membakar jika diberi sedikit tarikan untuk menyala. Saya tidak sabar membubuhkan “maha” dalam kesiswaan saya.

Sesampainya saya di Ubaya, saya lalu melihat bahwa definisi “aktivis” kali ini mengalam pergeseran makna. Tidak berubah, hanya bergeser. Definisi “aktivis” kali ini adalah orang-orang yang bekerja di balik sekian banyak acara kepanitiaan di fakultas maupun universitas. Bukan lagi turun ke jalan sebagaimana masa reformasi dulu atau di beberapa universitas lain. Selama tiga tahun saya di Ubaya, mencoba menjadi “aktivis”, lalu diberi kepercayaan untuk menjadi Gubernur BEM Fakultas Psikologi, saya belajar bahwa tiap mahasiswa punya porsinya masing-masing. Aktivis Ubaya saat ini punya PR darurat yang tak kalah penting; menggerakkan mahasiswa Ubaya sendiri.

Foto yang saya tampilkan di atas adalah foto savana depan fakultas saya. Foto tersebut bukanlah gambaran waktu libur atau saat jam aktif mata kuliah; foto itu saya ambil kemarin, 29 Agustus 2016, ketika sedang berlangsungnya orasi Capres-Cawapres BEM Universitas Surabaya periode 2016-2017. Sepi. Menunjukkan situasi Ubaya beberapa tahun belakangan ini, yang minim budaya politik. Tahun ini adalah tahun yang tidak biasa – karena akhirnya kita bisa melihat lebih dari satu kandidat setelah beberapa tahun tidak dijalankan Pemilu secara konvensional. Sudah tiga tahun berturut-turut, Presiden BEMUS naik karena aklamasi dan sidang istimewa. Martin Luter Ndaparoka naik atas sidang istimewa, sedangkan Abel Abatha dan Nadya Valerie naik menjadi Presiden karena mereka calon tunggal. Mahasiswa Ubaya masih banyak yang terlalu takut mencalonkan diri, yang tidak ingin mencalonkan tidak mau ikut campur, sisanya terlalu nyaman tidur di atas buku-buku tebal mereka.

Mahasiswa Ubaya saat ini sudah terlalu banyak diisi manusia angka – manusia yang begitu mengabdi pada nilai sebuah angka, bukan kepada ilmu atau kemanusiaan. Menjunjung tinggi IPK, mencari teman berdasarkan isi dompetnya, mengambil keputusan mau ke mana dan makan atas pertimbangan jumlah “likes” dan “follower” di Instagram. Memakai istilah Karlina Spinelli, manusia angka ini sudah banyak kehilangan “daya-daya abstrak-imajinatif-kreatif” sehingga, meminjam istilah Taufiqurrahman, “tak punya rasa simpati dan sensibilitas pada problem-problem nyata manusia”. Bodo amat sama apapun yang terjadi di luar, seng penting aku lulus, konco-koncoku lulus. Mahasiswa kehilangan banyak keberdayaan yang tidak diajarkan di matakuliah manapun, dan cuma bisa didapat dari keseharian. Tidak banyak yang tergerak untuk terjun memajukan fakultas dan Universitas, yang bisa dilihat dari monotonnya wajah-wajah yang muncul di sebagian besar kepanitiaan. Selalu itu-itu saja. Lalu apa yang salah? Yang lain ke mana? Apa yang bisa kami lakukan untuk mengubah ini?

Saya mengenal Bian dengan baik semenjak beberapa semester lalu. Melihat gayanya yang serampangan, saya teringat tulisannya Gie, karena ia seperti “sebuah pohon oak yang menantang angin di kumpulan pohon bambu.” Beberapa kali berkerja sama dengan dia, saya semakin melihat bahwa Bian adalah orang yang tidak takut berbeda – malah, ia begitu emoh sama dengan orang lain. Bian selalu melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, sebuah calon pemimpin yang revolusioner, sebuah konseptor yang handal. Dia lebih memilih inovasi daripada trend. Kekurangannya? Seringkali, dia tidak realistis akan keadaan sekitar yang kadang gak match sama apa yang dia mau lakukan. Apakah itu buruk? Belum tentu, karena itu membuatnya lebih giat bekerja, begitu keras menyemangati orang lain agar percaya, tidak lelah keliling mencari jalan keluar sampai berhasil.

Saya awalnya tidak terlalu mengenal Samuel. Saya tahu Sam, tapi saya tidak mengenal dia. Mungkin karena pada semester-semester awal, Sam termasuk jajaran “mahasiswa angka” yang sepenglihatan saya tidak banyak mengikuti acara fakultas atau Univ, selalu kuliah-pulang-kuliah-pulang. Namun semua itu berubah semenjak setahun belakangan ini, ketika ia tiba-tiba muncul dengan berbagai nama. Kak Asdos, Pimred, maping. Bagaikan di bawah pengaruh steroid, Sam bekerja terus tanpa henti, tak pernah berada di satu tempat dalam waktu yang lama. Ia pekerja yang disenangi karena menjadi seorang eksekutor yang handal dan memuaskan di luar ekspektasi. Saya mulai mengajaknya ngobrol, mencoba menyusuri jalan pikirannya, dan memutuskan bahwa ia adalah orang yang patut ditunggu opininya. Cukup untuk membuat saya mempercayakan dia untuk menjadi Ketua MOB Fakultas Psikologi tahun ini. Dan hasilnya luar biasa. MOB tahun ini sukses besar, baik di mata maharu tapi juga di mata semua panitia. Kami dekat seperti keluarga. Kekurangannya? Ia adalah pemimpin yang demokratis; mungkin terlalu demokratis di mata beberapa orang, karena ini membuatnya terkesan tidak tegas. Apakah itu buruk? Tidak, karena Anda tahu kenapa MOB tahun ini sukses? Karena setiap anggotanya, sekecil apapun perannya dalam tim, merasa dihargai, merasa dianggap, merasa dimanusiakan. Inii membuat mereka sanggup bekerja tanpa lelah, tanpa pamrih. Samuel berhasil memanusiakan manusia.

Ketika saya tahu bahwa Bian dan Samuel mencalonkan diri sebagai Capres-Cawapres BEMUS, saya memutuskan bahwa saya harus menulis untuk menyatakan, ya, saya memilih mereka. Bukan karena mereka teman saya, bukan hanya karena saya tahu kualitas mereka dan kinerja mereka, bukan karena kami sama-sama anak Psikologi dan suara kami dibayar. Tidak, mereka tidak sekaya itu. Tapi karena mereka tahu kelemahan masing-masing, dan mau berubah. Kelebihan yang satu melengkapi kelemahan pasangannya.

Karena saya melihat dan membaca visi misi mereka, dan saya merasa, inilah jawaban dari pertanyaan saya. Karena Bian dan Samuel tidak hanya menjanjikan kesiapan, tapi menjanjikan solusi. Bian dan Samuel berani mengubah susunan kementrian BEMUS yang selama ini dirasa kurang tepat, dan menawarkan usulan baru: Sekretaris Jenderal dan Menteri Pendidikan. Bian dan Samuel berani menyodorkan rencana jangka panjang untuk menyeriusi website BEMUS. Bian dan Samuel berani memberikan acara-acara baru agar peminatan mahasiswa lebih meluas: Ubaya Fashion Week, Leadership Talk, Literature Competition, UKM Cinematography, Dialog Multikultur, Program Turun Tangan. 

 

Inilah waktunya mahasiswa Ubaya berhenti menjadi mahasiswa rata-rata, manusia angka. Inilah waktunya mahasiswa Ubaya memenuhi kodratnya sebagai mahasiswa. Inilah saatnya mahasiswa Ubaya merasa dirinya terwakilkan, diberi ruang gerak, diberi kesempatan berkarya – tidak hanya mahasiswa-mahasiswa dengan peminatan tertentu. Inilah waktunya aktifis menjadi agen perubahan, bukan event organizer yang pencapaian tertingginya adalah jika berhasil mengundang band papan atas atau DJ sebagai pengisi acara. Inilah saatnya mahasiswa Ubaya berdaya, berinovasi, berkolaborasi. Inilah saatnya mahasiswa tidak lagi urun angan, tapi turun tangan.

Pemimpinyang baik bukanlah pemimpin yang diikuti banyak orang, tapi yang mampu menumbuhkan banyak pemimpin baru. Bian dan Samuel saat ini sedang menggulung lengan baju, mencangkul tanah gembur untuk tempat pohon-pohon oak berdiri menantang angin; tempat konseptor dan eksekutor baru sebagai pemimpin-pemimpin masa depan Ubaya.

Saya percaya, #ubayabisa.

1472406061508.JPEG

“Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. (menjadi pemuda yang) tetap bertahan dengan cita-cita idealisme. Menjadi manusia-manusia yang non-kompromistis.” – Soe Hok Gie

 

Mengapa Saya Memilih No.1: Sebuah Kritik dan Sebuah Solusi.

Tentang Karin “awkarin” Novilda, Line, dan Liverpool.

Tulisan di bawah ini adalah hasil pemikiran saya yang mengganggu di tanggal 19 Juli 2016, yang membuat saya memutuskan untuk tidak tidur dan terus menulis sampai jam 5 pagi. Sebuah ceplas-ceplos tanpa propaganda apapun yang akhirnya saya post di account Line saya, atas nama ndari, untuk dibaca teman-teman. Kenapa di Line? Karena tulisan ini tanpa melalui proses endapan dan editing apapun seperti biasanya ritual saya. Jadi jelas, banyak kesalahan EYD, kalimat-kalimatnya tidak koheren, banyak jokes garing, sarkasme sampah, dan perumpamaan yang bikin fans-fans Liverpool mengira saya mem-bully klub favorit mereka.

Sama sekali tidak saya duga, ternyata tulisan ini viral ke mana-mana. Dalam tiga hari, terakhir kali saya cek, tulisan ini di-share kurang lebih 16 ribu orang. Tulisan saya sudah di-copas oleh beberapa official account tanpa ijin, ada yang mencantumkan credit dan ada yang tidak. Tapi saya anggap itu konsekuensi dari menulis status di Line, bukannya lewat platform yang lebih besar.

Hingga tiba-tiba, tulisan saya ini hilang tanpa jejak dari home saya, karena ada yang me-report tulisan ini, entah siapa dan dengan alasan apa. Perlu saya jelaskan di sini, bahwa saya sama sekali tidak merasa ditekan ataupun tertekan dengan banyaknya komentar negatif yang muncul dari pihak Karin Novilda ataupun fans-fansnya, yang memutuskan saya untuk menghapus tulisan tersebut. Tulisan saya DIHAPUS secara sepihak.

Atas dorongan beberapa teman, saya memutuskan untuk membagikan kembali tulisan ini ke dalam situs pribadi saya. Yang perlu saya tekankan di sini adalah saya tidak mencari popularitas atau sensasi karena mumpung lagi banyak yang ngomongin topik ini. Yang menjadi alasan keputusan ini adalah komentar-komentar yang muncul di tulisan saya beberapa hari ini, yang bercerita tentang adik, teman, murid, kolega, ataupun anak muda pada umumnya yang, menurut penuturan mereka, mulai menunjukkan tindak-tanduk yang serupa dengan apa yang Karin Novilda pertunjukkan lewat media sosialnya. Ada 16 ribu orang yang sedikit banyak juga memikirkan hal yang sama seperti saya. Dan saya, sebagai anak muda, merasa memiliki tanggung-jawab moral untuk melakukan apa yang saya bisa, yaitu menulis, untuk setidaknya mencoba memberikan perspektif yang baru. Dan apa yang saya tuliskan di bawah persis sama dengan yang saya tuliskan di Line, tanpa diedit sehurufpun. Kata Pram, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Tulisan saya bisa saja dihapus, tapi suara saya tidak bisa mati.

Perlu diingat bahwa saya bukan orang yang hanya tau Karin dari vlog terbarunya. Saya berusaha memahami isi kepala Karin lewat semua media platform-nya, dan memahami penggemarnya yang berusia 11-18 tahun. Saya tidak mencoba menggurui, menyebarkan kebencian, apalagi mem-bully awkarin. Saya tidak mau mempromosikan cyber bullying di sini. Kembali lagi, saya hanya mencoba memberikan sudut pandang saya. Yang pasti, jangan sepenuhnya optimis tulisan ini akan mencerahkan, karena ini esai, bukan Bayclin.

Selamat membaca.

__________________________________________________________________

Jadi begini.

Saya orang yang suka stalking. Terutama selebgram, buzzer, influencer, youtuber, snapchatter, apalah. Orang-orang yang punya 15 minutes of fame lewat instagram, askfm, youtube. Saya stalking dengan alasan yang paradoks: penasaran, apa sih yang bikin saya begitu penasaran banget sama hidup mereka. Apa bedanya sih, hidup saya sama mereka? Wong sama-sama laper kalo jam 12 siang belum kena nasi.

Selebgram yang saya seru banget stalking-in adalah awkarin. Kenapa? Karena branding yang dia jual ke abege-abege Indonesia. “We don’t need goals, we are goals,” begitu katanya. Lantas sehebat apakah hidupnya sehingga ia memproklamirkan bahwa pertemanan, gaya hidup, gaya pacarannya adalah panutan?

Saya buka instagramnya, okelah, tipe-tipe abege fashionable yang suka pose-pose lordosis: susu monyong membusung, pantat kejengkang ke belakang. Okelah, cantik. Rokokan dan doyan dugem, baiklah. Loh loh, bekas cupang diupload? Yawes karepmu. Oh, ternyata ni cewek punya prinsip, “Nakal boleh, bego jangan.” Nilainya straight A’s semua. Tapi kalau baca-baca tulisannya di ask.fm/awkarin, isinya backlash ke hatersnya semua. Pinter e nangdi? Hmm.

Ketika khatam baca askfmnya baru saya sadar, bahwa awkarin ini bukan sekadar selebgram. Doi entrepreneur juga, pemirsa! Penghasilannya 32 jt perbulan, katanya sih. Sudah punya rumah sendiri, mandiri finansial dari orang tua sejak umur 16, katanya sih. KEREN. Ternyata akun youtube dan askfm-nya dimonetized. Setiap orang yg subscribe atau nonton videonya akan dihitung sama youtube dan doi dibayar. Doi juga buka open endorse mulai dari sempak sampe makaroni pedes. Palugada.

Lalu tetiba beberapa hari belakangan ini semua orang, termasuk yang ga ngikutin sepak terjang youtubers, rame ngomongin awkarin. awkarin tetiba jadi social pariah gara-gara putus sama gaga, dan semua orang nungguin vlognya. Kami butuh klarifikasi, tolong jelaskan sebenarnya ada apa!!!! #TeamGaga #TeamKarin. Akhirnya vlognya muncul, dan saya nonton.

Saya menutup window youtube saya dengan amarah yang menjadi-jadi.

Perlu diingat, saya bukan fans, bukan hater awkarin. Saya cuma pembaca dan penonton pasif. Saya cuma orang yang suka diskusi, dan saya punya dua pendapat di sini:
1. Kita hidup di era oversharing, gara-gara social media. Sebagai manusia modern, ada satu rasa gatal dari diri kita untuk membagikan sedikit dari siapa kita pada orang lain sebagai wujud pembuktian diri identitas – lewat gambar, tulisan, suara, yang dengan mudahnya tersebar ke siapapun. Selebgram, influencer, dan youtuber adalah orang-orang cerdas yang kebetulan menggunakan rasa gatal ini untuk mengenyangkan perut mereka. Apa yang terjadi dalam hidup mereka, dijadikan konten di socmed.  Merekam semua keseharian dan menyelipkan apapun produk yang mereka pakai sebagai usaha endorse. Menjadi reality show ala Keeping Up With Kardashians – tapi ini beneran guys, unscripted!  Eh vlog itu diskrip gak yah. Ah allahualam, kan kita cuma nonton ga usah mikir. Kalo mau mikir nonton Cosmos-nya Carl Sagan aja hehehehe.

Karena vlog unscripted, maka pembuat konten2 kreatif ini perlu kerja keras, gimana caranya their mundane, boring life bisa bikin banyak viewers. Banyak viewers = banyak duit masuk. Easy math.

Sedangkan hidup manusia pada dasarnya mah sama aja. Bangun, mandi, makan, kerja/sekolah, makan lagi, pup, kongkow, menjalankan hobi, pulang, bubuk. Yah gitulah kira-kira kalau saya bikin vlog, isinya mah gitu2 aja. Tapi kenapa para vlogger dan selebgram hidupnya begitu menarik? Ini rahasianya, saudara-saudara: karena mereka MENCIPTAKAN konten. Bukan mereka berakting, tapi mereka MEMILIH sesuatu dari segala hal yang terjadi dalam hidup mereka untuk direkam atau difoto lalu diupload. Ada alasannya kenapa mereka posting Get Ready With Me, bukan Poop With Me. Kehendak mereka dalam memilih aktifitas dan menciptakan konten sama bebasnya dengan keputusan Anda dalam memilih siapa yang harus difollow dan mau nonton video yang mana. Ada sesuatu yang di-highlight dalam hidup mereka. Ada yang suka make-up, atau suka makanan vegan, atau sering travelling. Mereka tahu jelas pasar mereka. awkarin pun begitu – dia anak remaja yang gaul. Kontennya jelas isinya sebagaimana anak gaul seharusnya: dugem, rokokan, punya pacar ganteng dan kaya dan bisa diajak ewe-ewean. Jelas ada yang suka, ada yang enggak. Hidup gue asik njing, lu lu pade yang cuma gegoleran di rumah pake daster bau bawang cuma bisa nonton.

Di vlog terbarunya, dia nangis-nangis, gak kuat dengan para haters yang mencerca gaya hidupnya, di sela air mata mengatakan, “Kalian jahat, kalian gak tau rasanya jadi aku, capek tau gak sih harus kayak gini, harus dijudge semuanya, harus baca kata-kata kalian yang jelek tentang aku.”

Well, here’s where you’re wrong, awkarin: no one told you to.

Saya tidak membicarakan gaya hidupnya: saya ga peduli gaya hidup siapapun. Tapi ketika gaya hidupnya dijadikan mata pencaharian, saya menganggap kehidupannya sebatas konten kreatif. Ketika seseorang menampilkan hidupnya ke khalayak ramai dan mendapatkan uang untuk itu, sama aja kayak buka open house 24
/7/365. Siapapun yang masuk pasti akan mengomentari. Itu occupational hazard. Setiap pekerjaan punya risiko, dan risiko menjadi vlogger atau selebgram adalah judgement dan ketiadaan privasi. Dan menurut saya, dia gak berhak marah-marah ketika ada siapapun yang mencerca. Ibaratnya saya bayar 380rb++ untuk makan di restoran mewah, tapi chefnya baru dan doi lagi pengen masak di kompor deket mesin pengolahan kacang. Ternyata di steak saya ada kulit kacang nyempil. Saya berhak protes ke chef, kan? Mana mungkin saya malah digampar sama si chef gegara protes. Siapa suruh si chef masak di kompor situ, padahal kotor dan banyak kompor lain.

Para youtuber atau selebgram yang berani posting segala macem adalah orang yang (harusnya) berprinsip, tau batasnya sharing dan show off, tau kapan harus stop, dan tau gimana caranya tutup mata dan tutup mulut. Ketika kamu jadi sosok yang dilihat semua orang, everyone judges, because you let them to. Dan dalam kasus awkarin ini, aneh rasanya ketika dia playing victim, sedangkan dia sendiri yang mempertontonkan kehidupannya ke semua orang. Dan ketika dia mulai dapat keuntungan dari situ, dia ga lebih dari sekadar pekerja. Don’t play victim, honey, because you pull the trigger – we all just stand by here and watch.

2. Sekali lagi, saya ga mengkritisi gaya hidup siapapun. Mau kamu nikah sama kipas angin, minum spiritus, ngerokok obor, cupang-cupangan di lutut, derita lo pade. Soal awkarin yang suicidal karena hampir bunuh diri dengan menenggak aseton (WHATTT?), yang abusif, posesif, obsesif, d’massiv, saya belum dapet mata kuliah Asesmen dan Aplikasi Intervensi untuk dapat menginterpretasikan kasusnya.

Tapi saya di sini bicara sebagai perempuan yang jika hidup di era yang berbeda, mungkin tidak bisa tahu bagaimana cara membaca dan menulis.

Kepala saya mendidih ketika saya dengar bahwa dia, quote unquote, “rela ga belajar UN buat nemenin gaga”, sehingga pakai kunci jawaban supaya bisa lulus. Lalu dia sambil nangis bilang bahwa dia ngelepas Kedokteran UI, yang jadi mimpinya sejak lama, karena ga ada waktu buat belajar karena nemenin pacarnya, yang udah jadi mantan, yang katanya selingkuh (“after everything that I did for you? after every single promises that you made? apa yang kamu lakukan ke saya…. JAHAT, rangga, eh gaga”) mungkin bakal balikan lagi, atau enggak, biarlah bulan Purnama yang memutuskan.

Sampai sekarang kita masih sering mendengar selentingan, “Hala ngapain kuliah lama-lama, toh juga nanti ngurusin anak sama suami.” Dan sampai sekarang, jutaan perempuan, termasuk saya, masih menyuarakan haknya untuk menjalani hidup tidak terlekat HANYA pada masak-manak-macak, tapi juga bisa dibarengi dengan panggilan hidupnya yang lain. Perempuan juga boleh sekolah, boleh belajar, boleh jadi dokter, sambil nyusuin anak. Semuanya masalah pilihan.

Dan membuang masa depan dan pilihan hidup demi anak ABG yang belum jelas juntrungannya, belum tentu jodoh, belum tentu akan menikahi, hanya berpatok pada pakem “RELATIONSHIP GOALS”, demi sebuah rasa sayang yang udah dicampur aduk dengan keharusan untuk membangun sebuah self-branding…. sedangkan banyak wanita di luar sana yang memperjuangkan kesempatannya untuk bisa bersekolah setidaknya hingga SMA?

That’s… degrading.

Semua orang punya pilihan hidup. Memilih menjadi orang yang menunda sekolah untuk alasan apapun, itu adalah hak. Namun jadi lain ceritanya ketika awkarin, yang telah memproklamirkan pacarannya sebagai relationship goals dan meninggalkan kesempatannya diterima di UI hanya untuk menemani pacarnya – sementara ribuan ABG di luar sana trenyuh dan merasa, “Awwww karin so sweet banget..” It just baffles me how dangerous it is.

Saya gak pantas lah ya, kalau harus ceramahin hidup awkarin terlalu panjang, atau jelasin sejarah perempuan Indonesia hingga bisa sekolah kayak sekarang. Saya cuma bisa ngomong ke perempuan di manapun, terutama yang lebih muda dari saya dan rela waktunya terbuang untuk baca ini, bahwa berhentilah menjiplak hidup orang lain dan iri sama kesehariannya. Boleh penasaran, tapi jangan jadikan hidup siapapun, terutama awkarin, untuk jadi panutan. Contohlah prestasinya, bukan hidupnya. Kalau kamu benar-benar butuh panutan dari remaja seusiamu, lihatlah Malala Yousafzai, 19, yang di umur 17 tahun menang Nobel Perdamaian atas usahanya membuka sekolah untuk perempuan Taliban. Atau Anzimatta, seorang penulis Indonesia yang tulisan dan gambarnya sangat berani berjuang untuk persamaan hak asasi manusia, padahal usianya baru 19 tahun. Seusia awkarin semua, kan?

Buang jauh-jauh kata-kata goals dari pikiranmu ketika melihat gaya hidup yang bukan kehidupanmu. Kamu sendirilah yang harus menetapkan goals untuk dirimu sendiri, bukan orang lain, seolah-olah mereka kiper yang menjaga gawang, dan kamu harus mencetak gol supaya menang. Ini bukan musim bola dan kamu gak perlu menang saat ini, kamu bukan Liverpool.

*drops mic*Screenshot_2016-07-19-13-56-01_1(pic credit: instagram.com/cavendishop.id)

ditambahkan tanggal 23 Juli 2016

Beberapa hari yang lalu, ada salah seorang pembaca tulisan saya di Line yang kemudian bercerita soal pengalamannya. Mala, adalah seorang guru privat Bahasa Inggris.

Tulisan di bawah ini saya salin kata per kata, seijin Mala. Berikut cerita Mala.

“I once did not care about those personal yet popular accounts showing off things like drinking and kissing in public as I know personally it is not even cool for me so why bother commenting on those people’s Instagram and protesting about what they do while on the other hand, some of our teenagers compliment them and label them as “relationship goals”. (but I wonder what’s so cool about that… Everyone can do that thing if they want to like seriously, we all also have lips?!?!?!)

Yes, I did not really care. I did not. Until one of my dearest people, one of my students, was found out to be one of awkarin’s followers and really really reallyyyy into her.  I found this out when I helped my student doing her homework from school asking her to tell about her idol to the class, and she chose Karin Novilda. I first didn’t recognize her from her full name, but then my student continued “that famous awkarin on instagram!!!” 

I literally cried on my way home after having that day session with her. We never missed out any of our following sessions not talking about awkarin and one day….
👧: *seeing an update on snapchat* omg temennya awkarin ada yg mabok sampe dibopong omg omg that’s so cool!!!
👩: apaan sih. udah jangan liatin snapchatnya mulu. block block
👧: kenapa sih kak? kakak benci bgt sm dia? kan dia pinter
👩: yaudah ayo belajar lagi, biar pinter kayak awkarin
👧: awkarin pinter tapi gak pernah belajar tau kak
👩: mana ada orang pinter tapi gak pernah belajar
👧: di snapchat dia gak pernah belajar
👩: dia kalo lagi belajar, gak main snapchat
👧: enggak. dia literally snapchat everything dari bangun tidur sampe pulang malem. gak pernah belajar
👩: *cries*

My student was found out to be her huge fan, thinking what she’s doing (going out until late at night, getting drunk yet managing to have good grades at school) is cool (my student goes to a well-established junior high school in Jakarta so she actually is really care about grades and to find someone like awkarin who brands herself as someone who is nakal but tetap pintar is like angin segar, for my student now has a justification to do like awkarin does, which of course is not a good justification). Do you know what happened to people who are smart but don’t have good attitude? They use their intelligence to trick, to cheat, which is even more harmful. People doing corruption can be one example.

Since then, I do care about the existence of those acccounts and try to keep up with them. I see their updates in various platforms and that makes me even cry more, imagining that in the other place my student is spending her time seeing this and thinking what she does is a life goal… I cannot.

I know some of us also realize how bad those accounts are and how critical some of our teenagers today are but don’t know who we want to blame. some of us may not really care because of “it’s their right to do that thing. They are living their life and I’m also living mine, peacefully” reason like I once had. But trust me you’ll never want to feel this kecolongan feeling. So in the meantime, I strongly recommend you to keep your beloved little ones from those accounts, check what they are following as those accounts are actually now more harmful than television (moreover, who watch television today???). Televison can restrict their viewers and its contents, but those people on Snapchat can be added as friends without any limitation of viewers regarding to the contents which are very concerning. and let’s use the privileges we have of living in this digital era by sharing things wisely and thinking deliberately about the effects on others who may view them.”

 Ya, Karin adalah anak muda berusia 19 tahun yang memiliki segudang polemik yang mungkin menjadi alasan perilakunya. Tapi, ia juga anak muda 19 tahun yang beranjak dewasa, dan seharusnya memahami konsekuensi dari segala tindakannya. Karin adalah orang yang sangat hebat dan memiliki kekuatan yang sangat besar untuk mempengaruhi orang lain, dan rasanya ia tidak sadar betapa kuatnya dia. Tapi, menurut saya, tidak selamanya kita harus menjustifikasi dan memaklumi perilaku nakal anak-anak muda dengan alasan “dia masih kecil, ini hidup dia”. Itu artinya kita meremehkan kemampuannya untuk melakukan hal yang benar untuk menyelamatkan hidupnya sendiri.

Tentang Karin “awkarin” Novilda, Line, dan Liverpool.

Jendela Dunia yang Berteralis

Dengan buku, Indonesia merdeka. Rasanya saya tidak berlebihan jika berkata seperti itu. Dari buku, para pendiri, para pejuang kemerdekaan Indonesia mengumpulkan gagasan besar, lalu menciptakannya sendiri. Begitu kental jejak-jejak humanisme, nasionalisme, monoteisme, dan demokrasi yang terkandung dalam Pancasila menunjukkan bahwa otak pendiri bangsa kita tidak main-main hebatnya.

Soekarno pernah mengatakan, “Buku menjadi teman saya,” dalam biografinya yang ditulis Lambert Giebels. Ia sangat menyukai tulisan filsuf Rousseau, dan tulisan bapak-bapak bangsa Amerika seperti Washington, Jefferson, Lincoln. Soekarno juga belajar berpidato dari Tjokroaminoto sampai Jean Leon Jaures. Penulis-penulis ini memberikan pengaruh yang sangat besar di dalam keluwesan Soekarno dalam berpidato – hingga ia menjadi salah satu dari segelintir pemimpin bangsa yang fasih melakukan pidato secara impromptu – dan pemikirannya yang hebat.

Mohammad Hatta memiliki 30.000 koleksi buku di perpustakaan pribadinya. “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas,” begitu katanya. Mohammad Hatta benar-benar meyakini bahwa buku adalah jendela dunia yang membukanya pada kebebasan infinit.

Sayangnya, hidup di Indonesia ini terkadang terasa seperti hidup di penjara.

Tapi, tanpa buku.

Bila melihat kedua founding fathers kita – Soekarno dan Mohammad Hatta – dan seberapa besarnya kecintaan mereka terhadap buku, sulit untuk percaya bahwa saat ini, Indonesia memegang tingkat literasi terendah di Asia Tenggara (sesuai dengan data terakhir IKAPI tahun 2014). Tidak usah jauh-jauh memikirkan berapa banyak perpustakaan yang ada di daerah saya – saya yakin hanya ada satu, itupun tidak terawat seperti perpustakaan-perpustakaan di luar negeri  – saya seringkali mendapatkan tatapan aneh dari orang-orang jika mereka mendengar saya berencana pergi ke toko buku. Seolah-olah pergi ke toko buku itu sama muskilnya dengan pergi ke tengah Laut Selatan untuk bertemu Nyi Roro Kidul. Seiring dengan perkembangan jaman, orang semakin mementingkan efisiensi waktu dan aktifitas yang dinamis. Orang-orang semakin meninggalkan suatu aktifitas yang sifatnya soliter seperti membaca, dan lebih jamak memilih berjalan-jalan ke mall, nongkrong, belanja online, atau stalking instagram mantan.

Indonesia bukan berarti buta dengan pentingnya literasi. Jika kita mengetikkan “minat baca Indonesia rendah” di search engine online, terdapat ratusan, ribuan artikel yang muncul. Tapi jika kita mengetikkan “kampanye budaya membaca” atau “perpustakaan daerah”, jumlahnya tidak sama besar. Seolah kita tahu bahwa masalah ini ada, tapi kita tidak tahu cara menyelesaikannya. Ada yang berjalan di jalanan berpasir dan sengaja untuk menggesekkan kaki hingga debu itu menutupi jalan di belakang kita.

Saya mengamati sebuah fenomena yang terjadi di kalangan keluarga saya. Sebagai seorang cucu dari dua kakek peneliti dan dosen, saya terbiasa melihat banyak buku setiap kali saya berkunjung ke rumah mereka di akhir pekan. Saya pun sering mendengar cerita orang tua saya yang tidak pernah meluangkan liburan dengan mainan, karena orang tua mereka selalu mencekoki mereka dengan buku. “Kamu kalau mau minta dibelikan buku berapapun harganya akan Bapak kasih, tapi kalau kamu mau mainan, Bapak tidak akan kasih,” begitu cerita Mama saya dulu. Untungnya, kebiasaan tersebut terbawa sampai Mama saya berkeluarga dan akhirnya saya lahir.

Fenomena ini, sayangnya, tidak terjadi di keluarga teman-teman saya yang orangtuanya sibuk membelikan gadget terbaru, sementara saya terkesima dengan proses terciptanya pelangi dan sibuk mengikuti petualangan George, Timmy, Julian, Anne, Dick. Rumah mereka tidak terbiasa menyimpan buku-buku di lemari. Maka, sulit jika kita mengharapkan anak-anak tumbuh menjadi seorang yang suka membaca jika orangtuanya pun tidak memberikan teladan yang sama.

Dari sini, terlihat betapa besar perbedaan orang tua era Orde Lama dan Orde Baru, yang walaupun banyak di antara merea yang tidak tamat SMA, SMP bahkan SD, tapi masih percaya akan pentingnya pendidikan. Mereka memotivasi anak-anaknya untuk mencapai cita-cita kalau bisa lebih tinggi dari langit. “Gak papa Bapak-Ibu kerja banting-tulang, yang penting kamu sekolah sampai tinggi.” Mereka sangat menggantungkan harapan akan masa depan keluarga yang lebih cerah di pundak anak-anaknya, dan mereka percaya bahwa satu-satunya cara untuk mencapai itu adalah dengan belajar lebih jauh lagi, membaca lebih banyak lagi.

Adanya sosok figur pemerintahan atau figur populer yang gemar membaca dan patut dijadikan contoh pun sudah jarang terjadi. Media lebih banyak menyoroti budaya hedonisme mereka atau isu-isu negatif – habis liburan dari mana? Rayain ulang tahun seperti apa? Baru punya mobil baru? Bagaimana Bapak menyikapi isu A B C D? – bukannya apa yang menginspirasi mereka untuk berkarya, siapa penulis yang mereka sukai. Padahal, tidak sedikit pejabat dan public figure yang suka membaca. Ada Anies Baswedan, Eva Celia, Maudy Ayunda, dan saya yakin masih banyak lagi.

Kita tidak bisa memaksa anak muda untuk mulai membaca apabila tidak ada figur yang bisa mereka contoh. Kita tidak bisa menuntut Indonesia harus setara dengan negara lain, untuk maju dalam bidang pendidikan, jika penduduknya tidak dibiasakan untuk membaca. Dan yang paling sederhana: bagaimana masyarakat bisa mulai membaca jika untuk makan saja sulit? Buku saat ini barang mewah, Bung. Satu eksemplar novel remaja saja harganya bisa mencapai Rp. 50.000,-. Di sekolah, kegiatan membaca buku tidak dimasukan dalam kurikulum – siswa hanya diminta untuk membaca buku dan menulis ringkasan, tanpa dibahas mendetil. Mencari buku sejarah Indonesia sulitnya minta ampun. Perpustakaan yang ada jumlahnya sangat terbatas, tidak terawat, tidak nyaman, tidak lengkap pula.

Menyelesaikan masalah ini sama paradoksnya dengan menentukan mana duluan, ayam atau telur. Apakah lantas kita harus menuntut pada pemerintah, institusi pendidikan, atau entah kekuatan apa yang lebih tinggi dari itu?

Saya tidak akan menutup tulisan ini dengan jari telunjuk tertuju maupun telapak tangan mengadah pada siapapun. Seperti halnya yang Socrates katakan: “Aku tidak dapat mengajarkan apapun pada siapapun, aku hanya dapat membuat mereka berpikir,” maka saya akan mengutip sepenggal puisi dari Rumi: “Kemarin aku begitu cerdas, sehingga aku ingin mengubah dunia. Hari ini aku menjadi bijak, maka aku pun mengubah diriku sendiri.”

(ditulis juga dalam https://asmalelana.wordpress.com/)

Jendela Dunia yang Berteralis